Publikasi
/
Berita
Publikasi
/
Berita
Berita
Tim BAST
19 Jun 2025
181
0
Banda Aceh – Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Dr. Mego Pinandito, M.Eng., didampingi oleh Kepala Balai Arsip Statis dan Tsunami Aceh (BAST), Muhammad Ihwan, S.Sos., M.Si melakukan kunjungan resmi ke Universitas Syiah Kuala (USK) dan disambut langsung oleh Rektor USK, Prof. Dr. IMarwan.
Kunjungan ini menandai penguatan kerja sama antara ANRI dan USK dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan kearsipan, termasuk kolaborasi dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Usai bertemu Rektor, Kepala ANRI bersama Wakil Rektor Bidang Akademik USK, Prof. Dr. Agussapti melanjutkan pertemuan dengan civitas akademika yang terlibat dalam program MBKM dan kegiatan kearsipan.
Prof. Agus menyampaikan bahwa hubungan antara ANRI khususnya BAST dan USK sudah sangat erat. Berbagai kegiatan bersama telah dilaksanakan, termasuk program MBKM di lingkungan ANRI yang telah mengubah cara pandang mahasiswa terhadap pentingnya pelestarian dan digitalisasi arsip.” ujarnya.
Agus juga mengungkapkan bahwa USK akan membuka program studi Program Doktor (S3) di bidang Kebencanaan. Ia menekankan bahwa Aceh memiliki khazanah sejarah yang kaya, mulai dari kerajaan, budaya, konflik, bencana, hingga perdamaian, namun banyak yang belum tercatat dan dikelola dengan baik.
Dalam sambutannya, Kepala ANRI menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang sudah terjalin dengan USK. Ia menegaskan komitmen ANRI dalam memperkuat sistem kearsipan nasional dan membuka peluang kerja sama yang lebih luas. “Seringkali kita berpikir arsip sudah selesai jika disimpan baik-baik, padahal justru karena terlalu baik disimpan, arsip sering terlupakan. Pemanfaatan arsip secara luas menjadi tantangan kita bersama,” ungkapnya.
Dalam forum tersebut Mego juga menyinggung isu terkait empat pulau yang menjadi perdebatan antara Aceh dan Sumatera Utara. Ia mengungkapkan bahwa ANRI juga memiliki dokumen arsip era Belanda yang menunjukkan bahwa keempat pulau tersebut masuk dalam wilayah Aceh. Hal ini membuktikan pentingnya peran arsip sebagai sumber informasi dan referensi.
Mego menambahkan bahwa peran arsip tidak hanya terbatas pada restorasi, penyimpanan, dan pelestarian, tetapi juga harus diarahkan pada pemanfaatan yang lebih luas sebagai sumber informasi sejarah dan pengetahuan. “Inilah yang bisa kita dorong bersama antara ANRI, BAST, dan USK ke depan,” kata Pinandito.