Publikasi
/
Berita
Publikasi
/
Berita
Berita
Tim BAST
27 Mar 2026
19
0
Banda Aceh, 26/3/2026 — Arsip Nasional Republik Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendorong pemanfaatan arsip sebagai sumber pembelajaran dan penguatan ketahanan masyarakat melalui peluncuran buku “MemoryGraph: Menjaga Kenangan Aceh Lewat Foto” di Auditorium Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC), Universitas Syiah Kuala.
Pengalaman Tsunami Samudra Hindia 2004 yang mengubah lanskap dan kehidupan masyarakat Aceh secara drastis menunjukkan bahwa bencana tidak hanya meninggalkan dampak fisik, tetapi juga memengaruhi ingatan kolektif masyarakat. Dalam perkembangannya, berbagai peristiwa bencana yang terus terjadi menegaskan pentingnya upaya dokumentasi dan pembelajaran berkelanjutan sebagai bagian dari penguatan kesiapsiagaan.
Dalam konteks tersebut, ANRI memandang arsip sebagai elemen penting yang tidak hanya merekam masa lalu, tetapi juga berperan dalam membangun kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat. Kepala ANRI, Mego Pinandito, menegaskan bahwa arsip perlu terus dihidupkan agar memberi manfaat nyata serta dapat dimanfaatkan secara luas dalam mendukung pembangunan kehidupan yang lebih baik.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, pendekatan MemoryGraph hadir sebagai inovasi dalam pemanfaatan arsip visual yang bersifat partisipatif, dengan menghubungkan dokumentasi masa lalu dan kondisi kekinian untuk membantu masyarakat memahami perubahan lanskap sekaligus merefleksikan pengalaman kebencanaan secara kolektif.
Direktur TDMRC, Syamsidik, menekankan pentingnya menjaga ingatan bencana sebagai bagian dari pembangunan budaya keselamatan (safety culture), terutama di tengah kecenderungan memudarnya ingatan seiring pergantian generasi.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Syiah Kuala, Agussabti, yang mewakili Rektor Mirza Tabrani, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi internasional antara Center for Southeast Asian Studies dan para peneliti di Aceh yang melatarbelakangi lahirnya buku ini, serta menilai kerja sama lintas negara sebagai elemen penting dalam pengembangan pengetahuan dan praktik kebencanaan.
Dalam sesi diskusi publik, para narasumber yang juga penulis buku menegaskan pentingnya menjaga keterhubungan antara lanskap, arsip, dan memori kolektif sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan masyarakat. Yoshimi Nishi sebagai penggagas MemoryGraph di Aceh menyoroti lanskap sebagai ruang penyimpan jejak kehidupan masyarakat yang perlu dipahami secara utuh. Alfi Rahman dari Universitas Syiah Kuala menekankan pentingnya menjaga ingatan yang melekat pada ruang pascabencana, sementara Eka Husnul Hidayati melihat pendekatan partisipatif sebagai upaya memperkaya praktik kearsipan. Perspektif literasi publik dan pengalaman lapangan turut disampaikan oleh Yarmen Dinamika dan Rizka Puspitasari yang menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mendokumentasikan dan mewariskan memori kebencanaan.

Buku MemoryGraph merupakan hasil proses panjang berbasis pengalaman lapangan dan disusun sebagai panduan praktis untuk mendukung pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Buku ini merupakan kolaborasi antara Arsip Nasional Republik Indonesia melalui Balai Arsip Statis dan Tsunami, Center for Southeast Asian Studies, dan Universitas Syiah Kuala, dengan dukungan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh serta Museum Tsunami Aceh.
Melalui buku ini, diharapkan pemanfaatan arsip sebagai sumber pembelajaran semakin luas, sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam merawat memori kebencanaan. Pendekatan yang ditawarkan juga diharapkan dapat membantu memahami perubahan lanskap, memperkuat ingatan kolektif, serta meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan dalam menghadapi risiko bencana di masa depan. (ekh)